Tulisan ini saya ambil dari muqaddimah kitab al Qiyadah wan Jundiyah karangan Musththafa Mansyur yang diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ridha terbitan Al-Ishlahy Press Jakarta.
Islam sama sekali tidak rela atas penyerahan, ketundukan dan ketidak berdayaan kaum muslimin dalam menghadapi kenyataan. Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya lemah dan takluk kepada musuh-musuhnya. Karena itu Islam mewajibkan umatnya bangkit dari keterpurukannya. Bergerak dan berjuang serta berkorban untuk mengembalikan eksistensinya yang hakiki. Umat Islam wajib berjihad secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan untuk menegakkan Islam dan membangun kembali Daulah Islamiyah-Khilafah Islamiyah yang kokoh. Dengan demikian tidak ada lagi fitnah dan gangguan yang menghalangi manusia untuk menganut Islam serta rintangan terhadap dakwah Islam ke seluruh dunia sehingga agama seluruhnya hanyalah untuk Allah SWT. Allah berfirman :
“Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.” (QS. Al Anfal:39)
Bergerak dan berjuang mencapai tujuan agung ini, merupakan kewajiban seluruh kaum muslim di manapun mereka berada. Siapa yang tidak bergerak dan berusaha meneggakn Daulah Islamiyah -yang di dalamnya tegak hukum-hukum Allah- akan terkena dosa. Juga berdosa jika tidak melindungi bumi Islam dan kehormatan umatnya dari penyerbuan musuh-musuh Islam. Sebaliknya seluruh kaum muslim wajib merebut kembali setiap jengkal tanah Islam yang telah diserobot dan dikangkangi kaum kuffar, terutama masjid al Aqsha. Umat Islam juga berkewajiban memperluas kawasan Islam dalam rangka mengembangkan dakwah Islam di seluruh dunia. Iman Hasan al Banna ketika memproklamasikan cita-cita Ikhwanul Muslimin, dalam risalahnya kepada generasi muda, menyatakan :
“Kita menhendaki agar bendera Allah berkibar kembali di atas bumi yang pernah merasakan kebahagiaan dengan Islam. Bumi yang dipenuhi oleh suara adzan, takbir dan tahlil. Tetapi bumi ini kemudian ditimpa bencana. Akhirnya sinar Islam memudar dan menjadi suram serta penduduknya kembali kepada kekufuran setelah menikmati Islam.
Lihatlah andalusia, Balkan, Cyprus, Iatlia Utara dan pulau-pulau di laut Roma! Semuanya harus dikembalikan ke pangkuan Islam. Laut putih dan laut merah harus menjadi lautan Islam seperti semula.
Kemudian, kita harus menyakan dakwah kita ke seluruh dunia dan menyampaikan kepada setiap manusia di seantero bumi. Kita harus menundukkan setiap pemerintahan zhalim agar mereka kembali kepada Islam, sehingga tidak ada gejala yang dapat menghalangi perkembangan Islam. Maka jadilah agama itu seluruhnya untuk Allah. Ketika itulah setiap mukmin bergembira dengan perolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Yang Maha Gagah dan Maha Mulia.
Biarlah mereka yang berpikiran dangkal dan picik mengatakan kita sebagai penghayal yang berenang di lautan angan-angan dan ketidakpastian yang telah merasuki ihwanul muslimin. Itulah kelemahan mereka karena kedangkalan dan kepicikannya yang tidak pernah dikenal Islam. Itulah kelemahan yang telah dilontarkan kepada umat Islam yang menyebabkan mereka tunduk menyerah kalah kepada musuh-musuh Islam. Itulah dia hati yang kosong dari iman. Itu pula yang menjadikan merea jatuh tersungkur. Kita ingin menegaskan di sini, bahwa setiap muslim yang tidak meyakini manhaj ini, mereka tidak mempunyai andil di dalam Islam. Jadi ia harus mencari fikrah lain yang harus diikuti dan berjuang untuknya”.
Semoga tulisan ini mengembalikan ingatan kita bahwa dakwah yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya adalah dakwah untuk mengembalikan kejayaan Islam dengan diterapkannya Syariat Islam melalui institusi Daulah Khilafah Islamiyah. Bukan sebaliknya, dakwah untuk mengokohkan kapitalisme-demokrasi apalagi sosialisme-komunisme.








